Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Stories of Copenhagen, The City, the Hostel and the Challenges

I. The City

Copenhagen
Pagi berhujan. ( doc. Icha )

Dibanding kota Malmo yang berangin, cuaca Copenhagen relatif lebih bersahabat.
Dari bandara kami menumpang metro menuju stasiun Kongennytorv. Tiket sekali jalan seharga DKK 36 bisa digunakan untuk area di tempat hostel kami berada.
Metro Copenhagen beroperasi 24 jam 7 hari seminggu. Maintenance dilakukan saat mid night. Ada 22 stasiun yang dibedakan menjadi 4 area, M1 -M4. Ini untuk area kota ya.
Jarak dari Airport ke downtown sekitar 23 menit.

Bandara Copenhagen
Bandara. ( doc. Icha )

Copenhagen sendiri tidak terlalu luas. Area wisata berkumpul dalam kelompok yang bisa di explore dengan jalan kaki. Jika ingin membeli tiket harian manfaatkan semaksimal mungkin untuk menuju area yang jauh.

Tiket 24 jam harganya DKK 80 setara Rp. 160.000. Lebih lama lebih murah. Teman saya mengambil 5 days ticket harganya DKK 300 dan itu pun tidak maksimal karena dia memilih jalan kaki sampai gempor kemana-mana bersama saya.


Stasiun kereta dalam kota. (doc. Icha)

Bus juga beroperasi 24 jam. Bus A beroperasi di central Copenhagen. Sedang bus B melayani daerah pinggiran menuju kota.

Tiket yang kita beli berlaku 1.5 jam untuk bus dan kereta di zona yang sama. Jadi misal habis naik kereta lalu naik bus, its free.

Kalau mau nyobain semua sarana transportasi, mending beli Copenhagen Citypass. Bisa buat naik semua alat angkut, plus free entrance di beberapa museum dan tempat wisata.
Rental sepeda maupun scooter ala po juga tersedia di mana-mana.
Warga selalu melakukan tapping sebelum dan sesudah naik kereta.


Waktu temen-temen ngajak saya sewa sepeda, saya tercenung lama.
Perasaan kapan ya terakhir naik sepeda? Mungkin berabad lalu.

Jalanan di Copenhagen terbagi antara jalur mobil, jalur pesepeda dan jalur pejalan kaki. 
Copenhagen berniat menjadi kota dengan emisi paling rendah. Saat ini 30% warga menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi. Tahun 2025 dijadwalkan 75%. 
Hebat.
Oh ya, pesepeda di Copenhagen tidak "se ganas" pesepeda di Amsterdam 😀. Mereka masih tersenyum manis saat kita tidak sadar masuk jalurnya karena meleng akibat liat bangunan cakep.
Pesepeda adalah raja di sini, raja yang ramah 😀.

Jalur pejalan kaki berupa jajaran rapi cobblestone yang tidak rata permukaannya. Ukurnya sudah ratusan tahun. Pemerintah kota berkomitmen merawat batu-batu kuno itu. Hanya minta ampun bikin susah dorong koper. Tidak semua dilengkapi dengan jalur rata yang memudahkan kita menggeret bawaan.
Koper 30 kg saya bikin lengan pegal luar biasa 😀. 

Menyusuri jalan selama 7 menit ( tepat seperti petunjuk google maps ), diiringi hujan gerimis mendung yang menggantung membuat saya, laparrrrr!

Sesampai di kamar langsung deh makan teri dan indomie.
Saya orang Indonesia asli!

II. The Generator Hostel

Tampak depan hostel kami. (doc. Icha)

Kami menginap di Generator Hostel. Hostel di city center dengan 6 bunk bed dan private bath room di dalamnya. Harga Rp. 400.000 per malam. Bersih dan rapi. Fasilitasnya persis seperti hotel bintang tiga, hanya kita tidur bersama 5 orang lain.
Tetapi malah bisa kenalan dengan banyak teman.

Bunk bed. ( doc. Icha )

Salah satu penghuni adalah Jin dari Korea. Saat saya makan Pop mie yang baunya menguar kemana-mana, dia membuka jendela dan lalu mendatangi saya,
"Jendelanya kubuka ya, kamu tutup lagi kalo udah selese makan".
Ya ampun.
Saya jadi ga enak hati. Memang sih sebetulnya kita nggak boleh makan di kamar. Mereka menyediakan ruang makan dan cafe. Sayangnya tidak ada dapur di Generator hostel. Jadi pilihannya cuma beli makan di cafenya, makan di area publik, atau yang lebih nyaman, ya di kamar 😀.

Jin bercerita kalau dia habis liburan ke Bali. 
"I love Indonesia very much. And I really want to come back!"
Kita tukeran nomor telepon, jadi kalau dia main ke Bali lagi, dia akan mampir ke Semarang.
Hari terakhir kami ketemu di tangga. Dia tanya,
"Kamu pergi hari ini ? Selamat jalan, kudoakan semoga perjalananmu menyenangkan ya!"
Dia memeluk saya.

Saya terharu.
Baru dua malam bertemu, kayak udah berteman lama sekali.

III. Stay at Hostel Challenges

Tantangan menginap di hostel sebetulnya banyak.
Kita nggak boleh berisik dan harus tahu diri, hati-hati dan penuh toleransi. 
Morning person plus pengidap jetleg kayak saya, sering harus tersuruk dalam kegelapan untuk menuju kamar mandi. Lampu yang dihidupkan akan mengganggu teman lain yang masih nyenyak.
Dandan pun dalam sinaran senter handphone, soalnya saya suka pagi memulai jalan-jalan. Sedang yang lain bangunnya siang.
Toleransi.
Taruh barang juga jangan sembarangan. Karena selain kawasan tempat tidur, area lain sifatnya barengan.
Seru kan?

Tapi saya suka di sini. 
Pilihan bagus untuk si alergi tidur sendiri dan pilihan smart untuk menghemat biaya. Selain itu, hostel umumnya berada di pusat kota yang dekat keramaian. Mau kemana saja mudah.

Mix dormitory, konon bahkan lebih menantang.
Pas main ke hostelnya Olga teman baru saya, dia cerita kalau sekamar bareng 6 cowok dan 1 cewek. Itu the cheapest room.

Saya diajak ke kamarnya. Saat itu kosong nggak ada orang. Tak lama masuklah cowok ganteng yang ramah dan mempesona.
Dia senyum manis sama saya sambil bilang,
"Wah rupanya kita kedatangan tamu."
Saya balas tersenyum dan cepet-cepet keluar kamar.

Cowok yang manis dan ramah.
Sayang pas masuk kamar itu, dia telanjang dada dan cuma pake celana dalem doang.

Sungguh benar-benar tantangan untuk bersikap biasa saja seolah tak ada apa-apa.
Olga yang melihat kecanggungan saya tertawa terbahak-bahak.

Saya dan Olga. ( doc. Icha )

"Don't be shy Icha, biasa aja, mereka tiap hari gitu. Untungnya yang itu ganteng dan wangi."
🤣🤣🤣.

Tiap hari gitu?
Saya pasti tiap hari sakit kepala.
🙃🙃🙃

Jadi begitulah, kalau selamat melalui malam-malam di hostel dan happy menikmatinya, kayaknya sudah bisa dibilang lulus ujian mata kuliah jalan-jalan.
😂😂😂.

Posting Komentar untuk "Stories of Copenhagen, The City, the Hostel and the Challenges"