Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Stories of Copenhagen, The Walking Tour



James, The Sandersman Tour
Penulis bersama James. ( doc. Icha )

Denmark, The Walking Tour.

Untuk trip keliling Denmark dan Iceland ini, saya pergi berempat, dengan 2 pesawat berbeda. Sebagai peserta dadakan, saya membeli tiket H minus 7. Tetapi harganya justru turun dari beberapa minggu sebelumnya akibat issue Corona.

Tiga peserta yang lain penyuka fotografi, sedang saya penyuka history.
Jadi kita berpisah dalam banyak kesempatan.

Saya memutuskan untuk ikut walking tour yang titik pointnya di City Hall. Malam sebelumnya saya sudah kesana untuk mengunjungi Hard Rock Cafe dan Starbuck.

Sudah pernah kesana, sudah bawa GPs juga, eh tetep saja kesasar.
Biasalah, liat GPs sama tanya orang, lebih cepet tanya orang. Tapi saya malah jadi cuci mata. Sepanjang area kesasar, banyak bangunan cantik abad pertengahan yang dijadikan aneka toko san restoran.

Jam 10.45 saya sampai di City Hall. Disana sudah menunggu wanita dan pria berpayung hijau. 
Sandersman Walking Tour. 
Saya mendaftar online sebelumnya. Tapi ternyata langsung datang pun diterima. 

James, pria berpayung hijau menyapa saya,
"Tour akan dimulai 15 menit lagi, silahkan lihat-lihat City Hall, bagus lho dalamnya."
Salah satu lorong Radhupladsen. ( doc. Icha )

Saya masuk dan foto-foto di dalamnya. City Hall Copenhagen mirip dengan City Hall Stockholm dan Helsinki. Biasanya ada tour keliling City Hall.
Oh ya, waktu saya datang sedang ada upacara pernikahan. Ruangan di dalamnya bisa disewa untuk acara juga. Tetapi jangan bayangkan pernikahan yang mengundang ratusan bahkan ribuan orang seperti di Indonesia.

City Hall. ( doc. Icha )

Saat walking tour dimulai, kami dijadikan dua kelompok. Secara instingatif saya memilih masuk di kelompok James. Pilihan yang tepat.
James is a real storyteller.

Walking tour yang saya pilih berjudul : Grand Tour Copenhagen.
James merupakan volunter yang bertugas sebagai guide, jadi dia tidak dibayar. Hanya dia jelaskan,
"Kalau kamu suka, tolong referensikan saya di trip advisor. Kalau kamu anggap saya informatif, boleh beri tip, karena saya tidak dibayar. But I love doing this for you. Jika tidak pun tidak apa-apa. Yang penting happy!

Di akhir trip, peserta masih lengkap. Hampir semua peserta berbagi tip. Koin pun diterima. 
Saya tidak punya selembar pun DKK, Jadi saya tanya ke James,
"Kamu punya mesin edisi nggak, James?"
Dia punya dong 😀.

Saya mendengar bahwa di area Scandinavia Country, semua serba cashless. Uang nyata jarang terlihat. Alasannya terkait pajak, juga kepraktisan. Card adalah solusi praktis yang tercatat, agar semua pengeluaran dibukukan dengan tepat dan sekaligus dilaporkan secara sistimatis pada negara. Jadi di sini perorangan pun punya mesin edisi, agar pendapatan dan penerimaannya dilaporkan secara real time.
James menyorongkan mesin EDC nya dan berkata,

"Silahkan ketik jumlahnya, I will close my eyes", lucu deh si James ini.
Saya menggesek DKK 75 setara Rp. 150.000,-
Dia seneng banget. 
"Thank you ya, katanya. I appreciate that".

Saya juga senang, soalnya jadi banyak tahu cerita lucu, seru dan aneh behind the city of Copenhagen.
Nggak rugi deh pokoknya.

Catatan perjalanan ini saya anggap sebagai diary. Kelak bisa dibaca-baca lagi sambil ketawa-ketiwi mengingat kenangan keluyuran di kota cantik bernama Copenhagen, one of my dream city.
View dari balik jendela. ( doc. Icha )


Copenhagen, bucket list CHECKED ✅

Posting Komentar untuk "Stories of Copenhagen, The Walking Tour"