Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cobaan Traveling, TL Jutek

Siap terbang

Perjalanan Musim Semi Berjuta Mimpi ( I )

Traveling selalu asyik dan seru?
Selalu bikin happy bertabur bahagia serta suka cita?
Oooooooo, tentu tidak!

Seperti semua hal di dunia, dimana ketidakpastian adalah kepastian itu sendiri, maka perjalanan yang ditujukan untuk suatu suka cita dan bahagia, bisa saja berubah menjadi ajang siksa batin dan derita.
Percayalah.

"Lantas mau berhenti traveling gitu?"
"Oo, tentu tidak!"
Selagi masih sehat serta mampu, maulah jalan-jalan melongok dunia di sini maupun sana.

Semua yang terjadi, justru bagian dari perjalanan hidup yang sesungguhnya. Dimana sedih dan gembira bisa dimaknai ulang sebagai suatu pelajaran dan kenangan yang tidak terlupakan.

Perjalanan saya pertama kali ke Eropa dapat disebut sebagai contoh perjalanan yang "menggemaskan". 
Walau akhirnya paham dan segera memaknai ulang episode itu menjadi, 
"Perjalanan Musim Semi Berjuta Mimpi"
😁😁😁
Pelajaran MAHAL, tapi terpakai sampai sekarang.

Saya dengan senang hati akan berbagi, agar sisi menyebalkannya berakhir di sini!

Tahun 2013, kami bertiga memutuskan untuk mengelilingi Eropa Barat di musim semi.
Ini adalah destinasi yang umum di sambangi newbie macam kami.

Negara yang dikunjungi biasanya :
Perancis ( Paris, Disneyland)
Belanda ( Amsterdam, Keukenhof )
Jerman ( Koln, Frankfurt )
Swiss ( Lucerne, Mt Titlis, Zurich )
Vatican City
Italia ( Venice, Pisa, Roma )

Kami menambah dengan mengunjungi London, sekalian menjajal Eurostar melalui terowongan bawah laut yang legendaris itu.

Kami memilih menggunakan agen travel besar yang terkenal, dengan pertimbangan lebih terpercaya.
Jeri rasanya mentrasfer sejumlah dana tertentu pada orang yang belum dikenal. Jaman itu penyedia jasa open trip juga belum sebanyak sekarang.

Travel agen, yang tidak boleh disebut namanya ini, merupakan 5 besar waktu itu. Dia bukan yang paling mahal, tetapi juga bukan yang paling murah. Skala 1 sampai 5, dia ada di nomor 3.

Singkatnya kami berangkat di akhir April saat musim semi mulai tiba. TL yang mendampingi, anak muda ceking berwajah tirus, yang sebut saja namanya Paijo.

Dari awal saya antusias bertanya ini itu padanya. Tetapi ia menanggapi dengan malas, tak antusias.
Semua pertanyaan saya dijawab tidak jelas. Mulai yang sepele macam suhu, detail tempat yang dikunjungi dan lain-lain, jawabannya ngambang.
"Nanti kita lihat saja, Bu."
😴😴😴

Tiba saat keberangkatan.
Di bandara, dia memberikan beberapa informasi dan aturan grup. 
Salah satunya adalah : 
"Jangan berbicara dengan supir. Driver sini tidak suka ngobrol, jadi tolong jangan diganggu. Semua hal harus lewat saya, ya."
Saya sih merasa aneh, tapi tak tahu mengapa.
Setelah dalam perjalanan, baru deh tahu sebabnya, kenapa kami tidak boleh berakrab ria dengan driver.
Ada modus rupanya.

( bersambung )

Posting Komentar untuk "Cobaan Traveling, TL Jutek"