Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Gjògv, Faroe Islands

Gjógv, Faroe Islands
Gjògv, Fairytale village. ( Icha )

( 13 ) Gjògv Village

Faroe Islands menjadi rumah bagi sekitar 123 desa, walaupun begitu, Gjògv adalah salah satu "a must see place" di Faroe Islands. 

Ada banyak pedesaan cantik di sana dengan berbagai alasan. Beberapa diantaranya disebut sebagai " the fairytale villages" saking cantiknya dan Gjòg selalu masuk dalam daftar top three favorit pelancong.

Saat spring dan summer desa ini mencapai puncak keramaiannya. Aneka festival digelar. Musim panas merupakan saat dimana jumlah manusia meningkat drastis dari biasanya.

Saat kami datang di pertengahan February, cuaca masih dianggap ekstrim. 
Jarang sekali kami melihat turis, bahkan penduduk lokal hanya keluar rumah untuk keperluan penting seperti bekerja dan berbelanja, walaupun sempat bertemu beberapa, kebanyakan memilih untuk diam di rumah.

Banyak penduduk asli  memilih berimigrasi sementara ke negara lain yang lebih hangat, sementara turis seperti kami, berlomba memaksimalkan waktu kunjung untuk meraup semua keindahan yang bisa kami saksikan sambil berjuang menyesuaikan diri dengan cuaca, menjaga kondisi tubuh dan dompet serta tak lupa berjibaku menahan pipis di mana-mana.
Those things even more challenging for us.

Kalau diperhatikan, lihat saja gaya foto saya. Memandang kamera sambil memasukkan tangan ke saku, tersenyum seolah hari ini semua biasa saja, baik-baik saja.
Padahal, gaya tangan masuk ke saku adalah gaya teraman untuk menghangatkan.
Senyum tipis itu sambil menahan kedua geraham agar tidak menggertak kedinginan.
Foto dari samping ?
Oh, supaya tidak kelihatan seringai akibat pipis tertahan.

Semua perjuangan itu, totalitas untuk beradaptasi yang tak mudah, effort yang dikeluarkan selama perjalanan, kekhawatiran, keraguan, perasaan sedang berada entah dimana, kerinduan akan rumah, seolah lenyap saat memasuki gerbang pedesaan Gjògv.

Gerbang Gjògv Village
Ini adalah pemandangan yang menyambut kita di desa Gjógv. ( Icha )


Gunung yang diselimuti salju adalah gerbang utama Gjòg. Warna kuning adalah warna rumput di saat winter yang melapisi permukaan.
Jalanan beraspal licin yang mulus membentang menuju sekumpulan rumah berwarna-warni yang menghadang laut biru dengan latar cemerlang langit dan awan. Cahaya matahari kembali menyinari bumi.
Perpaduan warna yang indah. ( Icha )

Terletak di ujung timur laut Esturoy, Gjògv hanya 63 km dari ibukota Faroe, Torshvan. Ditemukan tahun 1584 tetapi diperkirakan sudah ada jauh sebelumnya. Penduduk kala itu hidup dari hasil laut dan mengeringkan ikan.

Yang membuat Gjògv istimewa adalah ngarai yang membentang sejauh 200 m ke arah laut, yang saat ini biasa menjadi panggung berbagai atraksi festival musim panas.

Penduduk hanya berjumlah 49 orang. Ini menjawab keheranan kami karena saat berada di sana, kami tidak melihat satupun manusia. Bahkan kami tidak yakin rumah-rumah penuh warna itu ada penghuninya.

Rumah aneka warna. ( Icha )

Hari itu Gjògv hanya milik kami berempat!

Setelah puluhan sesi foto, matahari tiba-tiba kembali bersembunyi.
Angin menderu kencang, hujan gerimis turun perlahan. Mendung menjadi tebal. Langit gelap, dan semuanya lantas berubah kelabu tertutup hujan deras menggebu.

Kami meninggalkan Gjògv dengan kenangan manis pemandangan bermatahari yang luar baisa indah. 
Kami melanjutkan perjalanan setelah menyaksikan satu lagi the most beautiful place in the world.

Thankyou Gjògv!
I will see you again 

#ichavisitfaroeislands
#ichavisitdenmark
#faroeisland
#denmark

Posting Komentar untuk "Gjògv, Faroe Islands"