Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Suara Adzan di St. Paul's Cathedral, Mdina, Malta

St. Paul's Cathedral, Malta
Interior dalam Gereja. ( doc. Icha )


Dalam perjalanan kami tahun lalu ke Negara Malta, kota Mdina menjadi salah satu destinasi utama.
Kota Tua jaman medieval yang merupakan Ibukota pertama negara Malta ini sering juga disebut sebagai Citta Vecchia atau Citta Notabile dalam bahasa Maltese. Nama Mdina sendiri diambil dari bahasa Arab.

Kota yang dihuni sekitar 300 orang penduduk ini, konon sangat mendewakan kesunyian. Di dalam kota banyak dipasang peringatan / anjuran untuk memperhatikan tone suara kita agar tidak menimbulkan keributan atau kegaduhan. Layak sudah kalau kota tua ini menyandang predikat sebagai the Silent City. Sudah penghuninya dikit, eh nggak boleh berisik lagi...cocok

Memasuki gerbang  indah, yang terbuat dari batu kapur berwarna kuning khas Malta, kami langsung berjalan menyusuri lorong lorong yang sempit dan berkelok kelok. Ini beneran serasa ada di dalam scene film King Arthur. Cuma bedanya, kalau disana warna dinding semua bangunan abu-abu kehitaman. Yang disini kuning muda dengan semburat kecoklatan yang lebih cantik dan segar.

Mdina, dipenuhi lorong cantik. ( doc. Icha )

Lorong panjang yang berkelok kelok menyambut kami, membuat kami tersasar kesana kemari. Tapi justru disitulah asiknya. Toh nanti ketemu lagi, karena tujuannya adalah alun-alun kecil tempat dimana St Paul's Cathedral yang merupakan gereja Katolik, berdiri.

St Paul's Cathedral dibangun setelah gempa bumi sekitar tahun 1663. Duh nggak kebayang masih tegak dan indah kayak gini lho.
Konon interior di dalamnya artistik banget. Masuk dalam gereja mesti beli tiket yang dibundling dengan tiket museum. Karena pelancong Indonesia macam kami ini pakai ajian " mumpung disini", maka beli jugalah tiket seharga € 5, kurang lebih Rp. 75.000,-. Kunjungan ini direkomendasikan juga oleh Trip Advisor.

Tadinya saya cuma berniat nemenin Mas Pandoyo Panji berdoa, muter sebentar lalu mampir museum dan lanjut ke destinasi yang lain. 
Waktu kami terbatas di Malta ini.

Sesampai di dalam, memang benar facade luar dan Arsitektur dalam gereja ini terlihat megah dan antik sekaligus cantik. Nyeni banget. Lihat aja fotonya. Perbendaharaan kata untuk melukiskan keindahan itu nggak banyak sih. Lukisannya dan craftingnya khas Eropa pokoknya.
Selama ini yang antik biasanya berkesan tua dan agak seram, hehehe. Yang ini enggak. Malah mirip istana gitu.
Interior dalam.( doc.Icha)

Dibandingkan St. Peter Basilica, saya lebih suka interior St. Paul's Cathedral. Mungkin karena bangunannya lebih kecil sehingga bisa lebih fokus memandangi aneka lukisan dan pahatan keemasan yang menghiasi. 
Liat koleksi fotonya dibawah ya.

Saat saya dan mbak Renosari Bakar sedang asik memotret, kebetulan memotret disini tidak dilarang, tiba tiba terdengar suara Adzan yang jernih dan lantang,

'Allah Akbar Allah Akbaaaaar "....

Saya membatin dalam hati sambil berpikir,

"Oh mungkin gereja ini dulu juga masjid macam di Turki itu. Lagian khan negara ini juga berbau Arab. Namanya aja Mdina. Kayak kota Suci Madinah di Saudi. Jadi suara adzan mestinya bukan hal yang aneh.
Tapi kok suaranya kenceng banget ya, kayak di dalem gereja. Kan tadi banyak orang yang lagi berdoa juga disini. Keganggu nggak sih mereka?"

Seperti teringat sesuatu, saya sontak  memandang ke depan altar tempat mas Panji tadi berdoa dan saya foto. 

Lho kok mas Panji nggak ada?
Saya nengok ke samping kanan tempat mbak Reno tadi terlihat motret juga.
Lho kok juga nggak ada ?

Saya mulai panik dan nengok ke belakang, tempat mbak Hefarni Suaib terakhir keliatan lagi duduk ndlosor di lantai kecapean.

Yang terlihat adalah seorang wanita berjilbab biru yang sedang panik memencet-mencet handphone yang sedang, MENGUMANDANGKAN SUARA ADZAN!

Oh Tuhan, ternyata suara adzan itu berasal dari handphone mbak Eva,  yang memang sudah disetel untuk selalu ON pada waktu shalat.

Saya langsung menengok ke belakang dimana tadi terdapat barisan jamaah yang sedang duduk dengan takzim, mungkin sedang berdoa dan menanti giliran maju ke altar tempat mas Panji terakhir terlihat.

Barisan bule-bule itu sedang menatap tajam tanpa senyum ke arah mbak Eva. 
Mereka diem aja sih, nggak complain atau bilang ,
" ssssshhhhhhhhh", atau apa gitu.
Keep quiet lah pokoknya, yang notabene makin membuat suara adzan kita cetar membahana.
Mereka diam saja menatap mbak eva yang sedang panik mencet mencet segala sisi handphonenya, tebakan saya untuk meng off kan suara adzan tentu saja.
Penulis dan mbak Eva. ( doc. Icha )

Saya mematung sebentar, setengah mlongo, terus begitu sadar ( telat eikehhh ), langsung kabur ke belakang ketemu mas Panji sama mbak Reno yang lagi guling - guling ketawa ngakak.

Jadi kami semua para jamaah gereja St Paul's Cathedral dan semua turis penyuka kesunyian, mendapat bonus kumandang azan shalat dhuhur waktu Indonesia Bagian Tengah, di dalam gereja di negara antah berantah!
Epic banget khan ?

Ini adalah bagian konyol dan tak terlupakan dari perjalanan ke Malta tahun 2011.
Seperti yang sering terjadi,
Every Journey has its story.
Dan percayalah, yang kayak gini yang sebener-benernya bikin rindu.
MISS YOU ALL...

See you next trip ya guys

XOXO
#anekakenanganperjalanan
#ichavisitmalta
#malta
#mdina

Posting Komentar untuk " Suara Adzan di St. Paul's Cathedral, Mdina, Malta"