Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Stories of Copenhagen, Christiansborgh Palace




Christiansborgh Palace
Christiansborgh Palace


The History of Christiansborgh Palace

Christiansborgh Palace terletak di pulau Slotsholmen, sebuah pulau kecil di Copenhagen. 
Walau disebut pulau jaraknya sebetulnya dekat. Setiap sisi pulau dihubungkan melalui jembatan kuno ala abad pertengahan, menyambung dengan kota Copenhagen.
Kalau di Indonesia, jarak sedekat itu tidak lazim disebut pulau. Wong cuma terpisah sama got besar 😀.

(Jaman dahulu jaraknya tidak sedekat ini. Penumpukan lumpur dan pendangkalan menjadi penyebabnya).

Jembatan penghubung "antar pulau".

Awalnya Christiansborgh dibangun oleh Bishop Absalon sebagai benteng perlindungan terhadap serangan armada Viking. 

Pada kenyataannya benteng justru hancur karena kekalahan Raja Denmark, Valdemar Atterdag, melawan liga Hanseatic dari Jerman Utara pada tahun 1370, dimana salah satu syarat perjanjian damai adalah dihancurkannya benteng ini.

Puing-puing reruntuhan benteng masih ada di area Christiansborgh Palace hingga kini.

Di akhir abad 14 dibangunlah kembali tempat ini dan dinamakan Copenhagen Palace, yang menjadi tempat tinggal Raja dan keluargnya. Setiap Raja yang berkuasa menambahkan bangunan baru sesuai selera, hingga Copenhagen Palace makin membesar, jika dibanding aslinya.

Tahun 1731, Raja Christian VI meruntuhkan Copenhage Palace dan membangun Christiansborgh Castle yang pertama.
Istana dengan desain barok itu menjadi istana terbesar di Eropa Utara pada masanya.

Sayang, lagi-lagi api menghanguskan dan meluluh lantakkan istana pada tahun 1794. Bangunan istana dan kapel habis terbakar, hanya menyisakan bangunan-bangunan istal kuda.

Istana kembali di restorasi. 
Untuk sementara keluarga kerajaan pindah ke Amalienborgh Palace.

Christiansborgh Palace yang baru dibangun dengan gaya Neoclassical dan pembangunannya diselesaikan pada tahun 1828.

Karena keluarga kerajaan sudah merasa nyaman bertempat di Amalienborgh Palace, dimana ada 4 bangunan istana di tempat yang sama, maka kemudian Christiansborgh Palace dialihfungsikan menjadi area untuk resepsi resmi kenegaraan, dan acara formal lainnya.

Sebagai antisipasi terhadap kebakaran, konon kabarnya di ruang bawah tanah Christiansborgh Palace telah disiapkan tangki air yang luar biasa besar. Apabila terjadi kebakaran tangki air dapat berfungsi sebagai sumber pemadam api.

Sayangnya tahun 1884 ketika istana kembali terbakar, tak seorangpun mampu mengoperasikan pompa air yang digunakan untuk menarik air dari tangki di bawah tanah untuk disemburkan ke atas.

Penyebabnya adalah, pencipta sistim pompa air tersebut telah meninggal dunia dan tak satupun yang lain memahami cara mengoperasikan pompa, selain dirinya.
Sayang sekali bukan?

Hampir semua gedung hancur terbakar kecuali kapel dan gedung di area berkuda. 

Dua puluh tiga tahun kemudian, Christiansborgh Palace yang baru dibangun dengan gaya neo-baroque, dan (untungnya) masih tegak berdiri hingga sekarang. Kapel lama masih dipertahankan, dan pengunjung bisa masuk tanpa biaya untuk memandang kota Copenhagen dari ketinggian.

Old Chapel. (doc. Icha)

Teman saya Olga masuk ke dalam. Menurutnya pemeriksaan sebelum masuk sungguh ketat.
"It looked like we entering the airport insted they allowed me to bring my bottle".
Tapi pemandangannya worth a lot!
Sayang saya tidak bisa ikut.

Christiansborgh Palace saat ini berfungsi sebagai nadi demokrasi di Denmark. Anggota Parlemen negara Denmark berkantor dan berkegiatan di sana.
Kegiatan formal kenegaraa masih berlangsung dan tempat ini adalah salah satu obyek wisata yang paling banyak mendapat kunjungan wisatawan mancanegara.

Tertarik datang ke sini?
😊😊😊

Posting Komentar untuk "Stories of Copenhagen, Christiansborgh Palace"