Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Stories of Copenhagen, HC Andersen



Hans Christian Andersen
Patung HC Andersen di City Hall. (doc. Icha)

Hans Christian Andersen

Siapa yang tidak kenal HC Andersen? 
Beliau adalah pengarang dongeng anak yang kumpulan ceritanya sudah menjadi favorit saya, sejak bisa mengeja kata.

Gadis korek api, Little mermaid, Si Bebek buruk rupa, Thumbelina adalah beberapa dongengnya yang mendunia

Mengunjungi negara dan kota yang menjadi latar belakang kisahnya adalah bucket list, yang selalu saya bawa dalam setiap doa dan mimpi saya.

Saya setia, yakin dan percaya, waktu akan membawa saya kesana.
😁
Thank God, bucket list done!

Hans Christian Andersen adalah pengarang dongeng anak yang sangat terkenal pada masanya. 

Buku dongengnya selalu penuh dengan gambar warna-warni memikat mata. Karya Hans telah diterjemahkan dalam 125 bahasa, dari seluruh penjuru dunia. Lahir di kota Funen tahun 1805, sebuah pulau kecil diantara Copenhagen dan Jutland. 
Sepanjang hidupnya ia tinggal berpindah dari satu hotel ke hotel lain, apartemen satu ke apartemen yang lain, rumah kerabat satu ke rumah kerabat yang lain. 
Ia nomaden yang tak memiliki rumah sampai akhir hayatnya.

Salah satu kediaman HC Andersen
Rumah HC Andersen

Ada masa dia tinggal di hotel paling mewah di Copenhagen yang terletak di depan gedung opera.
( saat ini berubah menjadi Mall yang bernama Magasin du Nord )

Magasin du Nord
Hotel legendaris yang berubah menjadi Mall

Walaupun menempati kamar paling kecil di atap hotel, berhadapan dengan gedung opera membuat imajinasinya melanglang buana.

Ia ingin menjadi seorang penari balet.

Tak tanggung-tanggung ia menjajal audisi.
Seperti sudah diduga, 

"The result was awfull!"
James, tour leader saya, menyeringai.

Tak surut mencoba, ia mengikuti audisi sebagai seorang pemain drama. Hasilnya lebih parah. Ia bahkan mengalami cedera, entah kenapa.

Semangat HC. Andersen tidak surut. Ia ingin menjajal pentas apapun asal bisa manggung di gedung paling indah di Copenhagen.
Mimpi besar yang harus diwujudkan.

Tak lama muncul kesempatan mengikuti audisi sebagai seorang penyanyi opera.

Anehnya, suaranya cukup memikat. Ia dijadwalkan untuk mengikuti pentas.

Berhasil?
Ternyata belum.

Terlalu lelah lalu mengidap sakit, suara Hans Christian Andersen berubah dan tidak bisa kembali seperti semula.

Pementasan gagal.

Untuk menghiburnya, pimpinan pementasan menyarankan Hans untuk menjadi penyair, karena melihat bakatnya dalam berimajinasi dan menjalin kata.

Hans Christian Andersen lantas mulai menulis. Dari puisi sampai memoar kehidupan.
Anehnya justru dongeng, karya yang melambungkan dirinya sebagai penulis kenamaan dunia.

Salah satu dongengnya yang terkenal berjudul :
"Gadis Penjual Korek Api".
Anak yatim piatu yang berusaha menghidupi dirinya dengan berjualan korek api. 

Di suatu malam Natal yang bersalju, tak satupun dagangannya terjual. Kedinginan dan kesepian, ia menyalakan satu demi satu korek apinya. Dalam setiap gesekan korek api yang menyala, gambaran indah muncul memberi semangat padanya.

Hidangan natal yang menggoda, perapian yang hangat, ruang duduk nyaman. Gadis kecil itu terus menggesekkan korek apinya, demi menjangkau indahnya fatamorgana. Hingga geretan terakhir, muncul nenek yang sangat dicintainya. Mereka berpelukan. 
Semua korek habis terbakar.

( semoga bukan korek api gadis kecil ini yang menyebabkan kota Copenhagen terbakar beberapa kali )

Keesokan harinya, penduduk menemukan gadis kecil yang meninggal, dalam senyum bahagia, karena kedinginan.

Cerita besutan Hans Christian Andersen selalu membuat saya merasa menjadi bagian di dalamnya. Aneka jenis rasa, kesedihan, pengharapan, penderitaan juga kebahagiaan, menjadi inti ceritanya.
Banyak cerita lain yang enak dibaca oleh anak-anak segala usia bahkan juga orang dewasa.

Adakah teman-teman di sini yang dahulu menjadi fans Hans Christian Andersen? 
The Ugly Duck, masih ingat ceritanya?
Atau mungkin The Little Mermaid 😄.
Kalau iya, kita mungkin berada pada rentang usia yang sama 😀.

The Little Mermaid
Patung paling terkenal di Copenhagen. (doc. Icha)

Sayang, anak jaman sekarang tidak lagi menjadi penikmat bacaan karyanya. Masa kejayaan dongeng sudah berlalu.
Anak-anak sudah tak bisa berpaling dari handphonenya.
Termasuk tentu saja, para orang tua.
Betul atau betul?
😆😆😆

#daruratliterasi

Posting Komentar untuk "Stories of Copenhagen, HC Andersen"