Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Stories of Copenhagen, OLGA


 
Nyhavn
Olga and I. (doc.Icha)

OLGA

Saya berkenalan dengan Olga saat bersama-sama ikut walking tour bersama James.
Saya dan Olga adalah duo yang paling sering berada di barisan terdepan. 

Untuk bisa berkonsentrasi mendengar cerita James, lebih enak sambil membaca mimik wajahnya.
Jadi saya mesti berada di depan, agar tidak terhalang sama aneka bule yang menjulang. 
Saya kan mesti menterjemahkan dulu baru mengingat cerita yang disampaikan James.

Untung lho ketemu Olga, kami jadi sering cocok-cocokan cerita. 

"Eh tentang Prince Frederik, James ngomong gini khan?"
"Siapa sih yang bikin gedung opera baru? Suaranya James tadi ga kedengeran".

Akhirnya kita jadi berteman.
Terus pepotoan di depan patung Little Mermaid barengan.
Jalan meneruskan keluyuran.
Dan tetiba memutusakan ikut walking tour ke destinasi yang berbeda.

Kami di "kota Christiania"

Sungguh perkasa kaki ini menjelma.
Total jendral hampir 12 jam lho kami jalan-jalan.
Benar-benar jalan pake kaki. Ngga pakai metro.
Langsung pegel tiada tara.

Kami menutup malam dengan makan roti dan minum coklat panas di bakery terkenal di Copenhagen. Namanya Lagkagehuset.
Kok ya pas, dari dulu saya pingin makan roti terkenal buatan bakery ini.
Eh, Olga membawa saya kesini.

Bakery terkenal di Copenhagen. (doc. Icha)

Waktu tahu berangkatnya nyasar, Olga berinisiatif mengatarkan saya pulang sampai ke stasiun Metro terdekat, supaya saya mudah menemukan jalan ke hostel.

Di akhir perjalanan Olga bilang,

"Terimakasih banyak untuk hari ini ya, aku nggak tahu gimana menghabisan seharian ini kalau nggak ketemu kamu. Boleh aku peluk kamu ?"

Ya ampun saya jadi terharu.
Saya peluk dia erat-erat.
Saya juga mikir sama, kalau nggak ada dia, hari ini pasti tidak seseru tadi.

Jalan bareng sambil cerita ini itu, mengagumi sesuatu bersama-sama. Ngetawain hal-hal aneh yang terjadi di sana dan di negara masing-masing. Bahkan kami juga berbicara hal berat macam krisis ekonomi, politik, agama dan gender.

"Icha, kayaknya aku sudah mengenal kamu ratusan tahun lalu lho", katanya heran.

"Heiiii, aku juga merasa sama", saya menimpali dengan tidak percaya.

Teman yang asik bisa didapat di mana saja bukan ?

Karena besoknya saya dijadwalkan terbang ke Faroe Island pada pukul 11 siang, kami lalu menyusun acara sarapan bareng di Metro terdekat sekaligus farewell party berdua.
Manis sekali.
Saya jadi merasa kayak anak SMA lagi.

Padahal buat dia bangun pagi bukan hal yang mudah. Tapi dia mengusulkannya.

Saya tidak lupa membawakan Popmie buat dia.
Kemarin waktu saya cerita, temen sehostel sampai buka jendela gegara saya masak Popmie, dia jadi penasaran akan rasanya. Nah saya kasih satu buat icip-icip.

Eh, lezatos katanya.
🤣🤣🤣
Kena perangkap micin deh dia.

Saat saya sudah dijemput teman lain untuk naik Metro ke bandara, kita janjian.
Janjinya tahun ini mau ketemuan di negaranya, tahun depan dia yang gantian main ke Indonesia.

Olga tinggal di Kiev, Ukraina. Dan satu teman traveling saya, Kasia Cryptor, juga tinggal tak jauh dari negaranya. Mungkin keduanya bisa main barengan sama saya 😀.
Biar tambah seru!
Sekalian geret mba Tri Suci Maharani juga ah.

Seneng banget mau nyusun itenerary ketemuan berikutnya. Tukang keluyuran mah, baru nyusun itenerary, sudah bahagia!

Saat hendak berpisah dengannya, ada suara terdengar,
"Well, kamu bisa melewatkan lagi sehari dengannya di Copenhagen yang bermatahari."

Saya terdiam.
Gila aja buang tiket mahal dan langka.
Pesawat ke Faroe island itu langka lho, hanya dilayani 2 maskapai dari SAS dan Atlantic Airways.
Ini pasti halusinasi.

Kami lantas berpisah.
Lari-lari ke bandara karena mepet waktunya.
Sampai bandara koper saya keberatan sekilo ( 🙃 ). Ngeluarin satu jaket lantas ditenteng. Lari lagi ke gate. 
Antrian mengular.
Saya nekat, minta tolong nyelak antrian dengan wajah memelas.
Pada baik-baik kok. Dikasi dengan senyuman. Malah ada traveler sekeluarga mundur teratur bantuin kita.

Sampai di gate, dikasih tahu kalau cuaca tiba-tiba memburuk dan semua penerbangan dibatalkan.
Resiko keluyuran di awal tahun memang terkait cuaca.

Penerbangan diganti keesokan harinya.
Kami dikasih voucher makan, voucher hotel dan tiket metro. Setelah check in kami bebas. 

Saya diam tercenung, ingat bisikan halus yang mengatakan untuk menikmati dulu hari bermatahari di Copenhagen.
Well, baiklah.
Mari kita nikmati sepuasnya!

Saya segera menghubungi Olga. Bukan apa-apa. Kali ini saya butuh bantuannya.
Lha saya bela-belain beli hostel sekamar berenam biar nggak tidur sendirian, eh kok malah dikasih kamar hotel. Tidur sendiri itu olala, atuuut maaaak.

Saya ke kota lagi sama teman-teman. Mengulang tempat yang asyik. Main sama Olga barengan mereka dan berakhir dia pindah kamar ke hotel saya.
Aman.

Paginya kita main lagi ke kota berempat. Sarapan di tempat sama lagi.
Coffe House yang coklatnya sungguh membuat lidah bergoyang.
Rotinya pun melumerkan, bahkan bagi hati yang membeku terkena salju 😀.

Pulangnya Olga ikut bantuin packing.
Another farewell party.
Kemudian kami menuju bandara lagi
Olga masih stay di kamar sampai saatnya check out tiba.
Sesaat jeda dari kamar 8 bunkbednya.

Senangnya, menghabiskan hari bermatahari dengan teman-teman yang menghangatkan hati.

What a wonderful day.

Bahkan delay pesawatpun menambah keseruan perjalanan kami.
Terimakasih banyak Copenhagen
Hope I'll see you again, soon.
❤❤❤

Posting Komentar untuk "Stories of Copenhagen, OLGA"