Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Antri di Aloha, Ubud Bali

 

Antri di Aloha Ubud Bali
Hasil foto di Aloha Ubud.(doc. Icha)


Konon dalam mengantri, ilmu kita katanya belum secanggih penduduk mancanegara. Konon.

Tapi ternyata enggak juga. 

Waktu mengunjungi Aloha Swinging Resto di Ubud, yang mana mayoritas pengunjungnya turis asing, di tiap wahana dimana terdapat antrian, saya selalu tanya,

"Where is the end of the line?"

"Are you in line?"

Bukan apa-apa, kalau rame orang kan semrawut. Nanti sudah antri lalu salah line, selain buang-buang waktu, juga bikin kulit makin kelam terpanggang matahari Ubud yang garang.

Selesai merasakan deg-degannya naik medium swing, saya memutuskan antri di "sarang burung".

Semacam ayunan terbuat dari jalinan rotan yang ditempel di dahan pohon berjarak sekitar dua meter dari permukaan tanah. Kita naik menggunakan tangga dan tali pengaman yang dililit di pinggang. Aman.

Antrian di tempat ini anehnya sepi. Hanya tiga wanita dan satu kakek yang tertidur di bangku.

Saya tanya dimana akhir antrian, dijawab si embak dengan gelengan. Rupanya beliau tidak berbahasa Inggris. Kalau lihat facenya sih orang Thailand.

Antrian beringsut ke depan. Si kakek tetap tidur dalam diam. Saya berinisiatif melewatinya. Hanya tersisa tiga wanita.

Satu, dua, lalu saya.

Tiba-tiba wanita disebelah saya ngacir ke area foto lain. 

Hanya tinggal satu wanita yang antri di depan saya.

Ketika dia selesai berfoto, giliran saya tiba.

Saat petugas menata tangga dan melilitkan tali pengaman di pinggang saya, tiba- tiba terdengar teriakan lantang,

"We, come first!"

Seorang wanita didampingi wanita yang tadi ngacir, meneriaki petugas yang sedang mempersiapkan giliran saya 

Kami kaget, karena si embak tadi sudah pindah area dan ambil foto di tempat lain.

Si ibu yang berteriak lantang rupanya merupakan jubir dari grup itu. Dia marah-marah karena keseluruhan grupnya yang jumlahnya 12 orang belum selesai melakukan sesi foto, kok lalu saya didahulukan.

Lho, si ibu tadi kan udah keluar antrian yaaa?

Lagian, gimana mereka bisa cepet kelar, ngantrinya aja bertebaran di mana-mana.

Si bli kekeh tetep memprioritaskan saya, dengan melilitkan tali pengaman dan menyuruh saya naik. Tambah ngamuk si ibu.

Dia ngancam-ngancam mau lapor ke manager depan. Supervisor datang dan si Bli bilang,

"Ibu ini udah antri. Ibu tadi juga. Malah duluan. Tapi Ibu yang tadi lalu pergi, foto di sebelah. Jadi ini giliran Ibu ini

Si supervisor berjalan mendekati ibu yang marah, dan memintanya menunggu. 

Masi rapi-rapiin baju, si ibu teriak,

"Go ahead!"

Idih jutek amat sih. Sumpah sebal dengernya. Nggak sabaran banget. Nggak sopan juga neriakin yang punya negara.

πŸ™„πŸ™„πŸ™„

Saya nyaris tersulut.

Ada dorongan untuk turun tangga dan lalu bilang ke dia,

"Noooh, tu duluan gih sonoh, dasar drakula galak kebanyakan makan kembang api. Makan tuh ayunan sekalian!"

Tapi bisikan lembut terngiang di telinga,

"Yang penting, bagaimana engkau bereaksi."

Saya terdiam.

Yah sudahlah, lagipula ini liburan.

Bodo amat kalau dia lelah, tak bahagia dan lalu marah. Saya punya situasi yang berbeda dan tidak bersedia terpengaruh suasana hatinya.

Saya menarik napas panjang, tersenyum dan mulai menghayalkan diri sebagai mamak burung yang sedang mengagumi pemandangan.

Sesi foto berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Si bli jeprat jepret pake kamera dia dan juga ponsel saya. Sepanjang itu, keluarga besar ibu judes berdiri berjajar di depan dengan muka garang, seolah berusaha mengacaukan konsentrasi dan membuat hasil foto buram.

Grogi?

Oooh tentu tidak!

Difoto dalam suhu minus 22°C dengan angin kencang yang bikin wajah membeku saja, saya masih bisa tersenyum bak menang lotere jutaan dollar. Apagi cuma diiringi tatapan judes dari orang yang enggak kenal. Justru jiwa caper saya makin menggelegar!

Setelah melihat hasilnya saya jadi geli sendiri.

Difoto dalam tatapan penuh kemarahan ternyata membuat hasilnya sangat memuaskan 🀣🀣🀣.

Terimakasih ya madam pemarah!

3 komentar untuk "Kisah Antri di Aloha, Ubud Bali"

  1. Baca ANTRI ini kok berasa di Ubud aja..bahasanya santai dan apa adanya,termasuk bisa ngerasain emosi penulisnya😁😁😁
    ANTRI mungkin dianggap hal kecil bagi sebagian orang,tapi bisa jadi ulasan yang panjang karena sebenarnya dari mau ANTRI lah kita bisa menilai attitude seseorang..jarang ada yang mau membahas ANTRI padahal sudah seharusnya dibahas dan ga lagi bikin masalah disaat sebenarnya kita mau Have Fun..πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dear mba Vera, thank you atensinya yaaa ❤

      Hapus
  2. selalu ada ironi dalam tulisanmu, Sist, very good writing

    BalasHapus