Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Misteri Bayangan Kurcaci di Glenorchy, New Zealand (I)



Misteri Bayangan Kurcaci di Glenorchy

Gara-gara liat foto teman lagi main lagi ke New Zealand, saya jadi teringat kisah epic yang menutup perjalanan wisata kami ke New Zealand tahun lalu. 

Ceritanya kami melakukan road trip keliling New Zealand. Diawali di Auckland dan berakhir di Queenstown. Di hari terakhir, kami memutuskan mengunjungi Glenorchy sebuah wilayah kecil di utara lake Wakatipu yang terkenal dengan pemandangan indah sepanjang jalan. 

Karena para tante mau bobok siang, jadi kami pergi ber 4 saja. Waktu ditanya,

"Nanti lama nggak?"

"Enggak laah, deket ini. Makan malam bareng deh nanti. Farewell Party", kata saya sok yakin.

Memang perkiraan enggak lama-lama disana. Jarak Queenstown ke Glenorchy sekitar 50 menit berkendara santai. Pp kan cuma 1.40 menit.

Lalu foto-foto dan minum kopi paling 2 jam. Total 4 jam lah ya. Sesuai dengan waktu tidur siang para tante.

Cusss kita berangkat.

Langsung ke Glenorchy.

Benar apa yang kami baca tentang Glenorchy, sepanjang jalan menyusuri, pemandangan yang ditampilkan luar biasa.

Lake Wakatipu susul menyusul menampilkan aneka warnanya di sepanjang perjalanan. Kadang berwarna biru gelap, lalu biru tosca, lalu hijau jamrud, lalu biru muda dengan gradasi yang memanjakan mata.

Saya nyaris tidak berani melepaskan pandangan mata darinya.

Dikelilingi pegunungan batu bermahkota salju dan langit cerah berhias awan, pemandangan di sekeliling kami serupa lukisan yang menawarkan puluhan warna yang berpendaran menyatu dalam keindahan.

Sebetulnya, saya kehabisan kata untuk melukiskan keindahannya.

Mungkin gambar bisa berbicara lebih nyata.

Intinya breathtaking beautiful!

Bentang alam yang spektakuler ini menjadikan Glenorchy lokasi shooting bagi beberapa film laris, seperti sequel Lord of the ring, Narnia dan The Lion. 

Bisa dikatakan tempat ini surga bagi penggemar keindahan alam. Itu lho, orang-orang yang hobby duduk diam sambil memandang sekelilingnya. Enggak kemana-mana sampai mereka puas. Tidak melakukan apapun hanya diam sampai pegal 😁

Setelah foto di sana dan di sini, liat-liat souvenir di toko yang menjual T shirt bikinan sendiri, mampir beli coklat panas lezat sambil ngerumpi, maka kami memutuskan untuk kembali ke hotel.

Dalam perjalanan pulang, kami menemukan sebuah tempat yang sangat indah.

Padang rumput dimana banyak domba-domba gemuk berwarna putih berkeliaran di area yang dibatasi oleh pagar kayu beraliran listrik, plus latar belakang gunung salju yang megah. Jangan lupa, danau biru di kejauhan.

WOW.

Specta deh pokoknya!

Oh ya pagar kayu beraliran listrik lazim disini.

Bukan supaya nggak dimasukin maling. Tapi lebih agar domba nggak loncat nyeberang ke lahan tetangga lalu ditabrak mobil dan menimbulkan kecelakaan bagi manusia.

Kami menepi, keluar dari mobil sambil teriak,

"Aaah Indahnya!"

"Waoooow".

"Oh Tuhan."

Nggak nunggu lama kami sudah baris satu-satu nunggu giliran foto.

Mas Panji duluan nyeberang jalan. Diikuti mbak Renosari Bakar. Mereka langsung pecicilan ambil foto ke segala penjuru pandangan. Tiba-tiba mas Herry Franadi naruh kamera di atas pager kayu, terus ganti motret pakai kamera hape.

Saya nanya,

"Kok taruh disini mas? Kalo kena angin trus jatuh gimana?"

"Ah sebentar ini, tungguin deh cha. Foto pake hape lebih bagus soalnya males ganti lensa wide."

Okay deeh, dengan takzim kamera mahal itu saya tungguin.

Maksud hati sih mau saya kalungin di leher, takut kalau angin kencang berhembus dan wusssshhhhh kamera terjungkal.

Kan kameranya bisa hancur berantakan. Tapi kalau kamera terjungkal ke dalam area padang rumput dan jatuh diatas semak-semak yang rimbun, lebih aman sih. Ngga rusak. Rumput kan empuk. Tapi ngebayangin loncar pager terus kesetrum, males juga yak.

Iiissshhhh...mikir apaan sih... tepis pikiran buruk jauh-jauh.

Husss hussss...

Tiba giliran saya di foto.

Yeayyy 😍😍😍.

Saya nyeberang jalan dengan santai. Disini mah mobil dikit. Dari jauh juga mereka yang akan menurunkan kecepatan dan berhenti membiarkan kita lewat.

Setelah action aneka gaya, fotografernya kasih kode oke, saya menyeberang kembali dan kita segera naik ke mobil karena langit menggelap senja dan angin bertambah kencang. Pintu mobil aja kebanting-banting ngga karuan.

Cuss pulang, mau makan enak farewell party ucapin selamat tinggal dan terimakasih pada New Zealand karena esok kita sudah pulang ke Indonesia.

Nah foto-foto Glenorchy kami saya pajang disini ya, sekalian istirahatin mata. Kasian baca status saya kepanjangan.

Bagus kan?

Setuju kalau saya bilang pemandangannya super awesome ?

Cussss kesana yoookkk!

❤❤❤


#yusticaceritamisteri

#ceritamisteriicha

#misteribayangankurcaci

#misterikurcacinewzealand


( bersambung )

Glenorchy New Zealand








Posting Komentar untuk "Misteri Bayangan Kurcaci di Glenorchy, New Zealand (I)"