Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Misteri Bayangan Kurcaci di Glenorchy New Zealand (2)


Blue Lagoon
Kamera yang sempat hilang.

Misteri Bayangan Kurcaci di Glenorchy (II)

Di jalan para tante udah wa aja nanya mau makan dimana. Udah sampai mana. Kenapa lama bingits, udah laper niiii!

Kami jadi agak panik dan cussss ngebut pulang.

Anehnya, perasaan saya kok nggak enak ya. 

Apa ya. 

Rasanya kok deg-deg an dan syeram. Bulu kuduk merinding kayak kedinginan. Saya udah nyalain penghangat mobil lo.

Tahu nggak, saya kan duduk di belakang driver ( setir kanan ), pas nengok ke jendela samping, diantara deretan pohon-pohon tinggi di sepanjang tepi jalan, seperti ada bayangan yang mengejar.

Bayangan itu ujudnya persis OKI di Majalah BOBO yang bentuknya kurcaci hijau dengan telinga lancip dan pake topi berjuntai panjang di kepala. Kalau di majalah warnanya hijau. Kalau yang saya lihat di jendela warnanya serupa bayangan. Ia meleset kencang searah mobil seolah mengejar diantara pepohonan dengan tangan terulur keluar seperti ingin menarik perhatian atau menyuruh kembali ke belakang.

Saya mendadak kaku pada tengokan pertama. Kembali menatap ke depan. Jantung berdetak kencang. Keringat dingin mulai terasa muncul di pucuk kepala. Tangan langsung ditaruh di pangkuan soalnya keringetan.

Ini pasti halusinasi.

Saya tengok lagi.

Si Oki masih disana. Berkelebat diantara pepohonan, menghilang saat mencapai ruang terbuka dan muncul kembali saat tepian kembali dipenuhi semak belukar dan pepohonan.

Saya menegok 3x dan masih mendapatinya melambai-lambai seolah mau menghadang.

Dalam hati saya berkata,

"Tengokan ke 4 kalo dia masih ada, saya akan cerita ke teman-teman. Berarti ini nyata bukan halusinasi."

Tengokan ke 4 dan dia masih ada.

Demi dewa-dewa!


Lidah saya kaku, jantung meronta. Saya nggak sanggup bicara, sampai akhirnya setelah memaksa lidah untuk bergoyang, yang keluar dari mulut saya cuma beberapa patah kata,

"Mbak Reno, aku takut."

Untungnya mbak Reno cuma menatap saya aneh sambil bilang,

"Apaan sih".

Saya nggak mau bikin orang lain ikutan takut dan seram. Karena area yang kami lalui itu sangat gelap dan makin gelap. Tidak ada lampu di sepanjang perjalanan. Dengan area sekeliling yang natural, jalanan yang sempit dan berkelok, tepian danau yang kadang hanya beberapa meter dari jalan dan penerangan terbatas dari lampu mobil sendiri, maka yang nyopir harus fokus. Apagi kalau tetiba ada mobil dari arah berlawanan, atau aneka binatang yang melintasi malam.

Cerita bayangan kurcaci yang mengejar akan membuat suasana jadi tegang.

Jadi saya diam saja sampai mencapai area kota. Tempat keadaan berubah ramai dan cahaya berpendar dimana-mana.

Waktu mau mulai curhat, tiba-tiba mas Herry Franadi tanya,

"Cha, kameraku kemana ya, di belakang ada ngga?"

Aduh biyung. Kamera pujaan.

Kami segera ngublek nyari kamera ke segala penjuru mobil. Setelah menepis bayangan si kurcaci, samar-samar teringat tentang kamera yang diletakkan di atas pokok kayu di middle earth alias antah berantah.

"Tadi abis motret, mas Herry udah ambil kembali kamera dari pager belum", tanya saya lugu.

"Yaelah cha, enggak", sahutnya tersadar dan sedih.

"Tadi kan anginnya kenceng, jadi kita semua buru-buru ke mobil. Kan pintu mobil dibuka dikit aja sampai kebanting", saya meracau.

Padahal tahu nggak, pas ngomong gitu kita tuh udah sampai di halaman hotel. 😭😭😭

Suasana mendadak hening penuh kekuatiran.

Kamera mahal 

Isinya dokumen pepotoan dari awal trip sampai mau pulang.

Duh Gusti. 

Mas Herry memutuskan menurunkan kami ke hotel lalu kembali ke area yang entah dimana itu, untuk memulai pencarian kamera keramat tempat semua barbuk kunjungan New Zealand kami diabadikan.

Deuuuh, mana tega kami yeeee!

Jadi kami turun untuk numpang pipis di lobby. Lalu naik lagi ke Hyundai X1 dan cussssss balik ke area yang "tidak dapat dipastikan dimana" itu.

Tak satupun dari kami berani pamit ke para tante.

Takut diomelin!

Udah kebayang bakalan diomelin apa.

"Makanya to, kalau udah pepotoan jangan lupa daratan, kabeh-kabeh ( semuanya ) dipoto, terus lali digowo mulih ( abis foto lupa semua sampai kamera ga dibawa pulang )!"

Atau

"Dikit-dikit foto kok ya bisa kamera ketinggalan?"

Atau

"Wong dibilangin istirahat aja. Dolan kok raono mandege ( main mulu kagak brenti).

Oh Noooo...

Worst case para tante kalo laper pan bisa bikin indomi.

Tega ya 🤣.


Pokoknya kamera keramat itu harus ketemu ciiiiit...entah berapa kali barbuk trip kita bersemayam disana. Kalau hilang seperti seperempat hati ikut terbawa.

Ciyeeeehhh


Baru di jalan saya merunut kedatangan bayangan kurcaci yang mengikuti dengan peristiwa tertinggalnya kamera di antah berantah. Terjawab semua rupanya. Kurcaci nan baik hati itu mau ingetin kita supaya kembali.

"Kamera kalian ketinggalan di belakang tauk, dasar pikuuuun!"

Kami kembali menyusuri jalan yang makin pekat oleh kegelapan. Kelinci berloncatan menyeberang jalan. Burung dan kelelawar berseliweran di atas kaca depan. 

Mbak Renosari Bakar, orang yang paling logis diantara kami sempet bilang,

"Kok aku deg-deg an ya".

Hadeu, nambah deh stress kami.

Kami mengira-ira dimana tempat terakhir kami berfoto, dan setelah ketemu kira-kira di situ, kami memutuskan berhenti dan mencari.

Berpencar dua ke kiri dan dua ke kanan.

Sebetulnya dalam hati pesimis juga. Angin sangat kencang. Kalau saja kamera terkena angin dan jatuh ke semak-semak yang rimbun, bagaimana bisa ketemu ?

Atau jatuh ke lapangan berdomba dan dikekepin domba dikira anaknya ?

Atau banyak juga mobil lewat, dan kalau mereka melihat tongkrongan kamera yang cukup besar lalu berhenti mengambilnya bagaimana?

Sedang kami sendiri tidak tahu dimana tepatnya kami berfoto terakhir kali.

Bateray handphone saya tinggal 6 persen. Saya berusaha menyalakan lampu senter karena tempat kami berhenti sangat gelap. Sebelum sempat, mas Herry sudah lari ke kanan, dan mbak Reno serta mas Panji sudah lari ke kiri. Dalam sedetik saya kehilangan bayangan mereka. 

Wedewww takut dong eikeeeh.

Saya segera menyalakan senter handphone sambil lari meyusul mas Herry. Ajaibnya, sesaat setelah senter menyala, tampak jelas cekungan besar sedalam kurang lebih 10 cm di depan saya.

Ya Tuhan, untung senter menyala dan saya langsung berhenti.

Tambahan orang keseleo dalam perjalanan ini, sungguh bukan perpaduan yang bagus.

"Ada nggak mas", teriak saya di tengah deru angin kencang.

"Belum cha", teriak mas Herry.

Tiba - tiba terdengar jeritan mbak Reno,

" Kameranya ketemu!"

Jantung rasanya turun ke perut saking leganya!

Dan disinilah dia, kamera keramat, berdiri gagah di atas pagar batang kayu diameter 10 cm. Tegak menantang angin yang menderu. Ditunggui domba gemuk yang mengembik seolah memberi kode keberadaannya disini.

Menanti kami mengambilnya kembali!

Congratulations for us ya teman-teman, data base kita aman sampai pulang.


Sembahnuwun Gusti!


#yusticaceritamisteri

#ceritamisteriicha

#misteribayangankurcaci

#misterikurcacinewzealand

Posting Komentar untuk "Misteri Bayangan Kurcaci di Glenorchy New Zealand (2)"