Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenal Batik Penutup Jenazah di Museum Danar Hadi Solo



Museum batik Danar Hadi
Berfoto di depan Museum Batik Danar Hadi. (Doc. Icha)

Museum Batik DanarHadi

Kemarin kami ke Solo dan  mampir ke Museum Batik DanarHadi. Gedungnya cantik, gaya bangunan klasik tempo doeloe khas rumah juragan. Halaman luas menghijau, segar mata memandang, terlebih lagi spot cantik buat pepotoan. 

Museum Batik Danar Hadi Solo
Teras cantik di area museum. (Doc. Icha)


Museum ini memamerkan ratusan helai batik kuno dari berbagai daerah koleksi pemiliknya. Sayang kami nggak boleh mengambil foto. Selain untuk melindungi koleksi, juga sebagai perlindungan HAKI, ada karya yang merupakan desain pribadi.

Museum Batik Danar Hadi Solo
Area dalam yang disediakan untuk berfoto. (


Tiket masuk per orang Rp. 35.000, dapat dibeli di kasir toko. Di sana kami didampingi oleh Mas Afif, guide yang bertugas. Banyak banget infonya. Mulai dari sejarah batik, jenis batik dan peruntukannya sampai tahapan membuat batik.

Dulunya batik hanya boleh digunakan keluarga Keraton. Saat keraton terpecah menjadi 2 ( perjanjian Giyanti ), hal ini berpengaruh pada desain batik. Ada gaya Solo dan gaya Jogja. Bahkan muncul pula perpaduan keduanya.

Lama kelamaan, batik mulai dipakai masyarakat awam. Lahirlah aneka batik pesisiran, batik petani, batik saudagaran, batik pecinan, bahkan muncul batik Belanda dan batik Jepang yang mengadaptasi budaya negara tersebut. Semisal penggunaan motif sakura dan motif bebungaan khas Eropa. Batiknya juga lebih warna-warni dibanding batik keraton yang hanya m3miliki 3 waena, coklat ( sogan ) putih dan hitam.

Pembuatan batik yang rumit dengan tahapan panjang dan kerja tangan, membuat saya sadar kenapa batik tulis harus dihargai mahal. 

😂

Kalau nggak dikasih tahu, nggak bakalan mau bayar. "Aaah, kemahalan, masa batik harganya jutaan !"

Yang terpenting, seperti kata Mas Afif, adalah paham singkat mengenai pemilihan motif batik, karena untuk batik keraton, banyak filosofi dan aturan main dalam penggunaannya.

Semisal, ada batik untuk orang yang lagi jatuh cinta.  Pakai saja main ke rumah "si dia", lalu kemudian semua akan paham.  Ada yang lagi mau nembak pasangan.

"Say it with BATIK" bisa jadi tagline nasional kita.

Mas Afif juga menyampaikan, ada motif-motif tertentu yang tidak boleh digunakan untuk busana alias jadi baju.

Kenapa? 

Karena motif itu biasanya dipakai untuk menutup jenazah! Namanya motif slobog. Sayangnya, motif itu justru banyak dijual sebagai bahan pakaian, walau ditambah gambar atau motif tertentu.

Bagi yang paham batik tentu akan mengelus dada. Saya pasti cekikikan jika kelak menemukan motif itu dipake kondangan.

😁😁😁

Terpikir jika saja pelajaran sejarah atau bahasa Jawi, bisa dilakukan dengan main ke sini, pasti asyik dan lebih mengerti.

Dari segi jarak, museum batik ini dekat. Semarang Solo melalui jalan tol hanya satu jam. Sekalian mampir lunch di selat solo Vien's dan belanja batik di PGS.

Jangan lupakan foto-foto cetar dimana-mana.

Kegiatan solutip traveling singkat pasca covid sekaligus nguri-nguri budaya sendiri.

Pasti seru!

Posting Komentar untuk " Mengenal Batik Penutup Jenazah di Museum Danar Hadi Solo"