Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Night at Riga

 



Night at Riga


Vecrīga yang juga menjadi pusat arsitektur Riga ini mengingatkan saya akan keindahan Praha, dalam suasana yang lebih tenang dan menentramkan. 

Tidak mengintimidasi.

Tidak ada keramaian khas kota wisata yang hingar bingar. 

Tidak nampak jalanan yang penuh wisatawan ( dan juga mungkin pickpocket? )

Tidak ada pengunjung yang merubung aneka icon wisata terkemuka, sampai kita nggak bisa melihat apa-apa.

Yang paling asik, tidak ada "kebocoran" saat ambil foto dimanapun.

No photo bombs.

😁


Pendek kata, keriuhan Praha tak nampak di Riga. Keduanya berbeda tetapi mempunyai latar keindahan yang serupa.


Sebagian besar area Vecrìga hanya bisa dijelajahi dengan berjalan kaki. 

Hal itu menjawab pertanyaan mengapa kemarin malam kami diturunkan di pinggir jalan. Rupanya itu jalan terdekat dari hostel, yang masih bisa dilalui mobil.


Selama di Riga kami hanya menghabiskan waktu dengan berkeliling Vecrìga yang rapi dan bersih. Banyak gedung-gedung di area ini telah mengalami bertahun renovasi. Renovasi yang teliti dan hati-hati karena dibuat semirip mungkin dengan aslinya. 

Itu sebabnya saat berkeliling, tak mudah bagi kami membedakan mana yang asli, mana yang renovasi.


Dari pagi sampai petang, dalam terjangan angin kencang kami tabah menyisiri aneka lorong berbatu, hanya untuk tahu, ada apa dibalik itu. 

Dalam terik matahari siang maupun keremangan malam, kami tetap berjalan. Bahkan sepi yang membuntuti tak membuat kami jeri.


Jika sudah berasa lelah dan menggembol banyak belanjaan, kami pulang ke hostel. Jaraknya yang hanya selemparan batu sangat memudahkan.


Jika suhu mendadak berangin, kami berlindung dengan memasuki cafe-cafe mungil yang cantik atau keluar masuk toko souvenir. Cari penghangat gratisan sekaligus mengistirahatkan kaki yang pegal


Anyway, yang saya ingat betul tentang Riga adalah momen saat senja datang.

Saat siang mulai luruh dan berganti gelap membayang, serentak lampu kuning keemasan menerangi seantero Vecrìga dalam balutan tak benderang tetapi meneduhkan.


Vecrìga yang keemasan membiaskan aura elegan yang mewah, berwibawa, terasa sakral dan yang lebih utama, memberikan pada saya kenangan indah tentang perasaan kesunyian yang mewah.

Sunyi tetapi tidak lonely.

Ia sendiri hanya karena tak ada yang dapat menyamai.


Sulit menjelaskan dengan kata-kata.

" So many words to say, and no ways to say them"


Paling tepat, tentu mencoba menyelaminya sendiri.

Boleh dipikirkan mlipir sebentar ke Riga setelah covid reda.

Cukup tiga hari dua malam, karena Riga tidak terlalu luas, tidak terlalu mahal dan dengan Visa Schengen, tentunya mudah melanjutkan perjalanan ke negara Eropa lainnya.

Bisa juga lanjut jelajah kawasan Baltic yang lain, Tallin, Estonia dan Vilnius, Lithuania.


Semoga ikut merasakan aura sunyi yang tidak lonely itu ya.

🤩🤩🤩

Saya tunggu ceritanya!








Posting Komentar untuk "Night at Riga"