Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Buang Sampah Berbayar Mahal di Tokyo, Jepang


Buang Sampah di Jepang
Sungai yang bersih di Jepang. ( doc. Icha)


Suatu hari sepulang kerja, suami bercerita tentang temannya. Teman itu, selesai makan kudapan di mobil, suka membuang pembungkusnya ke luar jendela.

Waktu ditegur halus dengan nada bercanda, dia tak bergeming. Bagi dia itu sah-sah saja.

Saya terdiam, ingat kalau si empunya sampah itu punya dua anak menjelang remaja. Semoga saja kebiasaan ini tak menulari mereka.


Perihal sampah ini, saya jadi ingat pengalaman menginap di Jepang. 

Di sana, sampah adalah issue penting yang menjadi tanggung jawab setiap warga negara. 

Tata cara memperlakukan sampah diajarkan sejak dini. Sejak anak bersekolah, sejak itulah pendidikan akan pentingnya menjaga kebersihan dan tata caranya dijadikan mata pelajaran.

Di Tokyo, kami melihat langsung buah ajaran ini.

Mereka memperlakukan sampah dengan hati-hati dan tertata rapi.

Contohnya begini :

1. Pemisahan jenis sampah

Rumah tangga di Jepang mempunyai 4 jenis tempat sampah.

a. Untuk botol kaca.

b. Untuk can ( kaleng ).

c untuk botol plastik.

d. Tempat sampah untuk selain kategori di atas.

Setelah penuh, mereka akan membungkus terpisah dan dibuang di tempat sampah besar di luar rumah. Kesalahan mencampur aduk dapat berbuah tidak hanya sanksi sosial bahkan denda uang.

Semua itu dilakukan untuk memudahkan proses daur ulang. Semua bahan yang dipakai bisa kelola ulang agar tidak menjadi tumpukan.

Itu sebabnya lingkungan disana termasuk sungai-sungainya, bersih dari botol plastik dan sampah lain yang umum terdapat di negara kita.

2. Kelangkaan Tempat Sampah

Apakah dengan ketatnya tata cara membuang sampah lalu banyak tong sampah tersebar di mana-mana? Oh justru tidak.

Tempat sampah hanya disediakan di area tertentu.

Warga Jepang dengan tertib akan membuang sampah di tempatnya atau jika tidak tersedia, akan membawanya kemana-mana sampai menemukan tempat yang tepat!

Jalan Raya yang Bersih
Jalanan seperti habis dipel. ( doc. Icha)

Trotoar di Jepang
Trotoar bebas sampah. ( doc. Icha )


Saya pernah menggembol sampah makanan dari stasiun Tokyo menuju Shirakawa Go dan kemudian setelah kembali ke Tokyo baru menemukan tempat sampah di toilet!

Bayangkan hampir 12 jam saya bawa sampah ke mana-mana. Saya mau taruh di sebuah pot tua di desa Shirakawa Go biar tidak ribet tenteng sana-sini. Tapi enggak tega. Plastik sampah saya ambil lagi.

"When in Rome, do as Romans"

Kalo berkunjung ke negara lain, kita mesti menyesuaikan tingkah laku sesuai adat di sana. Atut dikira kampungan 😁.

3. Sampah besar yang berbayar.

Teman saya rusak kopernya dalam penerbangan Jakarta ke Tokyo. 

Maskapai yang melayani kami menggantinya dengan sebuah koper baru yang kokoh.

Petugas berkata sebaiknya isi koper dipindahkan sekarang.

Saat itu sudah pukul 1 malam waktu setempat. Mas Kris malas bongkar-bongkar disajikan puluhan mata memandang.

Lalu saya tanya petugas,

" Harus dipindah sekarang? Apakah koper yang rusak dibutuhkan sebagai barang bukti?"

Dia menjawab singkat, 

"No need, but..."

Rasanya dia sulit menjelaskan, karena tidak fasih berbahasa Inggris, tapi dia memberi isyarat kami boleh bawa koper rusak itu.

Hanya saja saya agak curiga dengan tatapan matanya yang aneh dan terkesan bingung memandang koper rusak kami.

Koper Rusak
Koper rusak (doc. Icha)


Singkat cerita, liburan berakhir.

Yang bikin kaget, saat kami sudah berada di Indonesia, host penginapan mengenakan tambahan biaya buang "bangkai koper" setara Rp. 600.000,- 

What??? Apa pulak ini.

Baru kami ingat, "bangkai koper" kami tinggal di area dapur karena tidak ada tempat sampah yang memadai termasuk tempat sampah di luar apartement.

Lalu host kasih tahu bahwa sampah dengan dimensi tertentu kalau dibuang harus di tempat khusus. Nggak boleh asal buang di tempat sampah runah tangga. Jadi Rp. 600.000 iti entah biaya menuju tempat pembuangan atau biaya untuk menghancurkan, kami tidak tahu.

Ya akhirnya dibayar saja biar beres.

😄😄😄

Di sana ga ada pemulung yang bisa jadi perantara pembuangan tanpa berbayar, ya kaaan.

Terjawab sudah tatapan aneh petugas maskapai kala itu.

Seolah mau bilang,

"Lah elu mau buang tu koper rusak di mana coba? Eikeh buangin kok gamau, malah dibawa. Mau buat memorabilia?"

Jadi, sebelum memasuki era yang sama dengan Jepang, sebelum tempat sampah berjenis-jenis, sebelum tempat sampah di jalanan langka, sebelum sampah besar buangnya mahal, yuk beri contoh yang baik buat sekitar terutama anak-anak kita, agar lebih bijak memperlakukan sampah.

Setidaknya kita cukup sadar diri menjaga kebersihan lingkungan dimanapun berada.

Kereta Jepang
Bagian bawah kereta yang bersih.(doc. Icha)

Nemu sampah di Shibuya. ( doc. Icha )

Lingkungan yang asri dan bersih di Tokyo
Seputaran Tokyo Tower yang bersih. ( doc. Icha)

Lingkungan pemukiman yang bersih. ( doc. Icha).


4 komentar untuk "Buang Sampah Berbayar Mahal di Tokyo, Jepang"

  1. Kapannnnn keajaiban sadar sampah ini terjadi di Indo ya mba.. Kali br dimulai dr para generasi anak cucu kita ya... Huhuhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. huhuhu, semoga cepet sadae enggak pake lama...suediiih lho kok ya belum jadi kampanye nasional yang massif dan serentak. 😁

      Hapus
  2. Selalu suka baca tulisan mu mbak...

    BalasHapus