Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mendidih di Blue Lagoon, Iceland

 



Blue Lagoon yang merupakan "25 Wonders of the World" versi Nat Geo adalah obyek wisata yang paling terkenal di Iceland. 


Berlokasi di Grindavik, sekitar 45 menit dari Reykjavik, laguna buatan manusia ini memperoleh sumbernya dari "limbah" geothermal plant, Svartsengi.


Iceland yang memiliki kekayaan geothermal berlimpah memanfaatkannya untuk menghasilkan pemanas, sumber air panas rumah tangga maupun memasak.

Untuk kepentingan ini Svartsengi melakukan pengeboran sejauh 1981 meter ke dalam perut bumi dan mengalirkan air bermineral yang memiliki suhu 200°C untuk digunakan memanaskan AIR TAWAR, agar dapat didistribusikan ke kota terdekat.


Gerbang Blue Lagoon

Area sekitar Blue Lagoon


Setelah tugasnya selesai, geothermal water yang suhunya menurun di kisaran 40°C dan masih mengandung berbagai mineral alami ini, dikirim untuk mengisi laguna yang dapat dinikmati sebagai sarana relaksasi dengan harga jutaan rupiah.



February lalu, di tengah cuaca dingin, hujan salju dan angin kencang kami mengujungi tempat yang sangat mainstream ini.


Memilih sesi paling pagi agar masih bisa kembali ke Reyjkavik untuk makan siang dan sedikit jalan-jalan sebelum terbang ke Tallin sorenya.

Kami sebetulnya agak ragu.

" Masak iya mau berendam di alam terbuka dengan baju renang dalam suhu minus, salju yang turun bak hujan dan tentu saja angin yang menderu kencang seperti bisa menerbangkan orang?"

Saya sih jadi lemes dan tak bersemangat.


Masih mengantuk berat pagi itu.

Apalagi saat keluar dari apartemen, nampak pemandangan tumpukan salju tebal yang merata di segala penjuru. Makin ngantuk rasanya.


Mobil sewaan kami juga tertimbun salju, sehingga terpaksa dengan tangan berbalut tas plastik kami mengais salju dari pintu dan jendela mobil.

Tangan rasa membeku sekaligus kantuk sirna, menguap entah kemana.


Hampir satu jam mengemudi menuju Blue Lagoon. Mobil berjalan pelan karena kondisi jalanan yang tertutup salju, kami sangat berhati-hati. Angin masih bertiup kencang.


Kami tiba saat matahari belum menunjukkan batang hidungnya. Area sekitar masih gelap gulita.


Saat tiba kami harus melakukan reservasi ulang atas tiket yang dibeli online seharga Rp. 1.200.000.

Tak tampak antrian yang berarti. Kami diberi gelang karet bermagnet dan diterangkan ini itu. 

Karena hari itu adalah Womens Day atau disebut Konudagur Day, maka pengunjung yang berjenis kelamin wanita mendapat hadiah 2 masker sebagai kenangan.

Lucky us!

Locker di Blue Lagoon

Gelang karet identitas pribadi


Kami menuju ke ruang ganti yang terpisah, membuka dan menutup locker secara otomatis dengan menempelkan gelang karet, lalu mandi. Mandinya tanpa selembar benangpun.

Ini diharuskan.

Ada dua petugas wanita di ruang ganti yang bertugas memastikan kami mandi sesuai prodesur yang disyaratkan.


Sama seperti di Denmark, ketelanjangan di sini adalah hal lumrah. Hanya saja jika tidak terbiasa, bisa memilih bilik tertutup yang tak banyak jumlahnya.


Setelah berganti baju renang, kami berjalan atau berenang ke dalam selasar yang menghubungkan ruang mandi dan kolam.

Blue Lagoon bentuknya tidak istimewa, serupa kolam renang di resort Indonesia yang dipinggirnya ada beberapa gazebo. Disana kita bisa minta masker wajah dari silica khas Blue Lagoon, juga membeli minum dan camilan.

Suasana Blue Lagoon


Karena membeli tiket kelas comfort ( baca : paling ekonomis ), maka kami berhak atas 1x masker, 1x welcome drink dan 1x pemakaian handuk. Lebih dari itu akan dikenakan biaya extra. Semua transaksi dilakukan dengan menunjukkan gelang karet kami, semua akan tercatat di situ.


Oh ya, handphone tidak dilarang penggunaannya. Jadi bersiaplah memberi pelindung anti air, agar tidak basah Beberapa gadget dikatakan aman dari air. Tapi ingat, ini air bermineral yang bisa jadi sangat merusak logam.


Rencananya kami akan berendam sambil menunggu matahari terbit dari peraduannya.

Cuaca yang makin dingin mau tak mau membuat kami kuatir.

Tapi udah bayar sejutaaan, masak kalah takut sama kedinginan?


Akhirnya kami memaksa keluar. Disambut air yang menggigit saking panasnya plus angin bersalju yang membuat beku.

Freezing outside, Burning inside!

Sensasinya luar biasa.

Apalagi saat salju turun serupa kapas yang langsung luruh terkena uap Blue Lagoon.

Saya sampai bingung mendefinisikan rasanya.


Suhu kolam yang hangat bahkan sangat panas di beberapa area, membuat otot lemas dan ini terasa sangat nyaman. Bagian atas badan yang didera rasa dingin perlahan menghangat. Jikapun tidak, kami dapat menenggelamkan diri sebatas wajah.

Hangat semua kan?

Oh ya, airnya tidak terlalu baik untuk rambut. Bisa bikin kaku, tebal dan kering. Saat bilas nanti, sapukan banyak-banyak conditioner yang disediakan ya.

Kalo saya sih bawa sendiri dari rumah.


Kami berendam dan menghabiskan green smothie yang lezat, memakai masker tebal-tebal dan membilasnya setelah sejam, foto-foto di segala penjuru, mondar-mandir untuk pee . Ulang semuanya 3x untuk semua kegiatan itu!

Tetapi lama-lama jadi bosan juga.

Dengan berat hati kami menghentikan sesi kenikmatan badani ini.


Oh ya, saat pee saya sekalian ambil botol minum untuk refill air kran yang lezatos menghindarkan dehidrasi. Kalo ga bawa botol terpaksa beli. Sebotolnya seharga Rp. 50.000 sd Rp. 75.000 😅.


Petugas yang tidak berseragam, artinya lagi off duty, biasanya mau dimintain tolong untuk ambil foto.

Tapi ngapain juga dia off duty tapi keluyuran di area kerjanya ya 🙄. 


Setelah dua jam kami mentas, dan masuk ke area shower. Seluruh jari kaki dan tangan sudah keriput dan mengering. Rambut kaku. Tetapi otot terasa lentur, kulit wajah dan tubuh terasa licin dan halus, lebih bercahaya dan lembab.


Kami mandi, berganti pakaian dan lalu menggunakan makeup room yang cozy. Fasilitasnya lengkap. Mulai dari hair dryer, body lotion, kapas, tissue, cotton bud, karet rambut sampai plastik untuk pakaian basah.


Saat keluar kami mengantri ke area cashier dimana petugas mengambil gelang karet kami dan mencocokan transaksi yang terjadi secara elektronik. Jika tidak ada tambahan, kami langsung boleh pulang.


Sepulang dari Blue Lagoon kami tak jadi ke Reyjkavik untuk jalan-jalan. Rasanya lemas, mengantuk dan tetiba merasa sangat membutuhkan tidur. Sayang hostel cantik kami tidak bisa lagi digunakan karena sudah mendekati waktu check out.

Kami langsung menuju bandara dan tertidur di salah satu kursi tunggunya.


Petualangan mahal yang bikin kami lemas dan sanggup ketiduran di mana saja.

Relax serelax relaxnya.


Jika ada kesempatan mengunjungi Blue Lagoon, jangan lupa bawa :

1. Baju renang nyaman yang proper ya

2. Satu stel baju ganti

3. peralatan make up

4. Botol minum

5. Pelindung gadget


Yang lainnya sudah disediakan di sana. Kecuali memang alat mandi harus pakai punya pribadi, dibawa saja. Tapi jangan yang berat-berat.

Ambil sesi paling pagi, selain murah juga sepi. Kalau bisa sehabis itu bisa tidur di tempat yang nyaman, dijamin bangun segar bugar luar biasa, semua letih, lelah dan stress menguap bye bye ga usah jumpa.

Tak papa tidur saat liburan, it worth a lot.


Kalau ingin berendam tetapi ngga mau ke tempat wisata mainstream macam ini, cobalah geothermal pool alami yang konon banyak bertebaran. Selain lebih menyatu dengan alam, konon juga tidak berbayar. Syaratnya mesti tanya yang punya Iceland, yaaa, siapakah dia?

Colek Willy Iceland

1 komentar untuk "Mendidih di Blue Lagoon, Iceland"