Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Gyeongbokgung, Istana Megah di Jantung Seoul


PIntu gerbang istana yang direstorasi sesuai aslinya. ( doc. Icha)


Istana Gyeongbokgung adalah satu dari lima istana yang terdapat di Seoul Korea Selatan. Merupakan istana yang terbesar dan termegah, tak heran, hampir setiap turis yang mengunjungi Seoul pasti menyempatkan diri mampir ke sini.

Seperti saya, 6 kali  mengunjungi Seoul, 6 kali juga menyapa Gyeongbokgung. Setiap kali ke Seoul, pasti ada teman yang belum pernah berkunjung. 

Jadi, mau nggak mau ikut remedial.

Istana Gyeongbokgung dibangun pada masa Dinasti Joseon. Di Era ini ibukota dipindahkan dari Kaesong ( Korea Utara ) ke Hanyang ( Seoul ). 

Istana Gyeongbokgung musnah saat Jepang menginvasi Korea di tahun 1592 - 1598, dan baru dibangun kembali 2.5 abad kemudian, di masa Kaisar Gojong dari Dinasti Heungsondaewongun ( penggemar drakor pasti fasih ngeja!).

Kalau sudah sampai sini, enaknya ngapain aja coba?

Things to do di Gyeongbokgung :

1. Sewa Hanbok, pakaian tradisional Korea di sekitar istana. 

Harga bervariasi.

Biasanya sudah lengkap dengan sandal, tas dan hiasan rambut. Make up dan tata rambut belum termasuk.

2. Jalan-jalan di dalam istana

Dipungut tiket masuk sekitar 3.000 Won setara Rp. 40.000.

Kalau ada waktu dan mau, bisa lihat seluruh bangunan yang jumlahnya kurang lebih 330 😄.

Jalan-jalan dengan pakai Hanbok kan cetar. Banyak sudut istana jadi tempat fave untuk photo ala seleb instagram.

Oh ya ada tour gratis dalam bahasa Inggris setiap jam 11.00, 13.00 dan 15.30. 

Siapkan waktu kalau mau ikut tour ya, nggak boleh mlipir sembarangan. 

Enggak sopan!

Sudut ini biasany jadi tempat foto fave. ( doc. Icha)


3. Atraksi upacara penggantian penjaga gerbang pukul 10.00 sd 14.00.

Seru juga ini.

Arak-arakan penjaga berbaju tradisional diiring tetabuhan aneka bendera dan panji-panji kebangsaan.

Kita bisa foto sama mereka gratis, tapi mereka enggak boleh diajak ngomong atau disentuh. 

Bisa marah.

Waktu itu saya dan rombongan foto bareng. Eh, kemepetan sama si penjaga. Maklum usel-uselan. Trus dianya menggeram-geram sampai si panitia datang dan mendekat serta meminta kita jangan sampai ada body contact.

Deuuuh, menggeram lhoooo, syereeem.

Foto dengan penjaga, don't touch me! (doc. Icha)


4. Mengunjungi Museum Nasional Istana Korea.

Masih di dalam kompleks istana, isi museum adalah artefak peninggalan Dinasti Joseon termasuk isi istana Gyeongbokgung sendiri.

5. Mengunjungi Museum Nasional Rakyat Korea.

Museum ini berisikan kisah kehidupan rakyat Korea dari jaman dulu sampai sekarang.

Selesai di area istana, bisa mlipir ke luar.

Karena  tempatnya strategis di pusat kota, mengunjung istana Gyeongbokgung bisa sekalian menjelajahi area sekitarnya. Banyak taman, banyak patung baru ( sepertinya setiap berkunjung kesana saya melihat penampakan something new ), dan yang juga cukup ramai dikunjungi turis adalah pemukiman tradisional Bukchon Village. 

Ini sih dibilangnya pemukiman tradisional, tapi jangan bayangkan kayak kampung gitu ya, soalnya yang tinggal di situ kebanyakan malah milyuner. Mahal banget tanah di Seoul pusat kota itu.

Dari Istana Gyeongbokgung mau jalan kaki sudah bisa kemana-mana. Tapi kalau mau ke Bukchon Village, naik taxi saja nggak mahal.

Di Bukchon Village, ratusan rumah tradisional Korea yang disebut Hanok didirikan dari masa Dinasti Joseon. Dulunya yang tinggal di sini adalah pejabat kerajaan, kaum bangsawan dan orang kaya masa itu. 

Hanok memiliki beberapa kekhasan, antara lain sistim pemanas di bawah lantai yang disebut ondol, lantai rumah dari kayu dan atapnya berupa genteng hitam berlekuk yang disebut giwa. 

Suasana di area Bukchon Village. ( doc. Icha)


Saat ini banyak Hanok yang masih ditinggali oleh pemiliknya, sehingga serbuan wisatawan bisa dikatakan jadi gangguan yang meyebalkan. Di sekitar Hanok banyak aktivis lingkungan yang sengaja hadir untuk mengingatkan wisatawan agar sopan dan tidak berisik. Mereka berkumpul di sudut perumahan sambil membawa papan pengingat untuk "quiet, please" , "be polite" agar wisatawan tidak sembarangan gaduh atau ambil foto di sudut yang merupakan area pribadi.

Jika ingin mencicipi suasana hanok yang asli, kita bisa mampir ke restoran atau cafe yang menyajikan hidangan ringan serta teh Korea. Sambil duduk di lantai, mengistirahatkan kaki dan merasakan kehangatan pemanas kuno temlo doeloe.

Percayalah, walau sudah 6x mengulang ke area ini, saya belum bosan juga.

Cita-cita saya adalah berfoto dengan memakai Hanbok di istana dan di area Bukchon Village. Soalnya dari dulu belum kesampaian karena saat kunjunhan selalu di musim dingin. 

Musim terindah adalah saat sakura mekar dan saat autum sedang mewarnai sekitarnya dengan aneka warna kuning, oranye dan terakota.

Datang di kedua musim itu, photo cantiknya bisa ribuan.

Jadi, ada yang mau barengan saya ke Seoul pasca Covid tiada?

Berdoa, mulaiiiiiiiii.


I Seoul U

Posting Komentar untuk "Gyeongbokgung, Istana Megah di Jantung Seoul"